Sabtu, 31 Oktober 2015

GANGGUAN PENDENGARAN PADA ANAK





BAB I




PENDAHULUAN




 




A.    LATAR BELAKANG




 

 

 




Ketidaksempurnaan kadang membuat anak-anak minder dalam pergaulannya sehari-hari. Kehilangan pendengaran, termasuk salah satu kekurangan yang membuat anak-anak sulit tumbuh normal di tengah masyarakat.Audiologist dan pakar pendidikan anak tunarungu Drs Anton Subarto, Dipl Aud menjelaskan ada beberapa faktor yang menyebabkan ketulian pada anak, di antaranya :Ketulian disebabkan karena virus Toxoplasma Rubella atau campak, Herpes dan Sipilis. Terkadang kedua orang tua tidak menyadari bahwa dirinya telah mengidap virus tersebut sehingga menyebabkan ketulian pada anaknya kelak.




Ketulian juga bisa dialami ketika anak pada masa pertumbuhan, misalnya pada saat lahir, anak lahir normal hanya saja menjelang usia 10 tahun ia mengalami sakit sehingga diberikan obat dengan dosis tinggi sehingga menyerang telinganya.
Jadi ada gangguan pendengaran karena obat-obatan yang memiliki efek samping menyebabkan ketulian. Seperti pil kina juga mempunyai pengaruh yang besar pada telinga, maupun aspirin juga terbilang rawan, oleh karena itu harus hati-hati bila digunakan.




Faktor genetik juga bisa mempengaruhi, misalnya kedua orang tuanya normal, namun kakek dan neneknya memiliki riwayat pernah mengalami ketulian. Hal ini bisa berdampak pada anak. Anak terlahir dengan disedot, vacum, Caesar juga bisa merusak saraf pendengaran. Jika anak mengalami tuli saraf, tentu tidak bisa disembuhkan, hanya bisa di bantu dengan alat bantu dengar semata.Terapi yang bisa membuat kembali mendengar itu tidak ada kecuali untuk para tuli konduktif yang disebabkan karena infeksi. Infeksi ini dapat disembuhkan tetapi ketuliannya belum tentu sembuh.




 




 




 




 




 




 




 




 




 




 




 




 




BAB II




TINJAUAN PUSTAKA




 




A.    Pengertian




Gangguan Pendengaran adalah ketidak mampuan secara parsial atau total untuk mendengarkan suara pada salah satu atau kedua telinga. Pembagian gangguan pendengaran tergantung pada tingkatan beratnya gangguan pendengaran yaitu mulai dari gangguan ringan ( 20 – 39 dB ), gangguan pendengaran sedang ( 40 – 69 dB ), dan gangguan pendengaran berat ( 70 – 89 dB ).




 




B.  Klasifikasi




Gangguan Pendengaran dapat di klasifikasikan sebagai berikut yaitu :




1.    Tuli Konduktif, di sebabkan oleh kondisi patologis kanal telinga eksterna, membrane timpani atau telinga tengah. Gangguan telinga konduktif tidak melebihi 60 dB karena di hantarkan menuju koklea melalui tulang (hantaran melalui tulang ) bila intensitas tinggi. Penyebab tersering gangguan pendengaran jenis ini pada anak adalah otitis media dan disfungsi pada tuba eusctacius yang di sebabkan oleh otitis media secretori. Kedua kelainan tersebut jarang menyebabkan kelainan gangguan melebihi 40 dB.




2.      Tuli sensorineural, disebabkan oleh kerusakan atau malfungsi koklea, saraf pendengaran atau batang otak sehingga bunyi tidak dapat dip roses sebagaimana mestinya. Bila kerusakan terbatas pada sel rambut di koklea, maka sel ganglion dapat bertahan atau mengalami degenerasi trans neural . bila sel ganglion rusak, maka nerveus VIII akan mengalami degenerasi Wallerian.penyebabnya antara lain adalah : kelainan bawaan, genetic, penyakit/kelainan pada saat anak dalam kandungan, proses kelahiran, infeksi virus dan obat yang merusak koklea( kina,antibiotika golongan makroid), radang selaput otak, kadar bilirubin yang tinggi. Penyebab gangguan pendengaran ini di sebabkan oleh genetic atau infeksi.




3.    Tuli campuran, yaitu apabila terjadi gangguan pendengaran Tuli konduktif dam tuli campuran terjadi bersamaan.




4.     Prebiakusis, yaitu hilangnya pendengaran terhadap nada murni berfrekwensi tinggi, yang merupakan suatu fenomena yang berhubungan dengan lanjutnya usia. Bersifat simetris, dengan perjalanan yang progresif lambat. Terdapat beberapa tipe presbiakusis, yaitu :




Ø  Presbiakusis Sensorik, Patologinya berkaitan erat dengan hilangnya sel neuronal di ganglion spiralis. Letak dan jumlah kehilangan sel neuronal akan menentukan apakah gangguan pendengaran yang timbul berupa gangguan atas frekwensi pembicaraan atau pengertian kata-kata.




Ø Prebiakusis Strial, Abnormalitas vaskularis striae berupa atrofi daerah apical dan tengah dari kohlea. Prebiakusis jenis ini biasanya terjadi pada usia yang lebih muda disbanding jenis lain.




Ø Prebiakusis Konduktif Kohlear,  diakibatkan oleh terjadinya perubahan mekanik pada membrane basalis kohlea sebagai akibat proses dari sensitivitas diseluruh daerah tes.




5.     Tinitus, yaitu suatu bising yang bersifat mendengung, bisa bernada tinggi atau rendah, bisa terus menerus atau intermiten. Biasanya terdengar lebih keras di waktu malam atau ditempat yang sunyi. Apabila bising itu begitu keras hingga bisa didengar oleh dokter saat auskkkultasi disebut sebagai tinnitus obyektif.




6.     Persepsi Pendengaran Abnormal, yaitu Sering terdapat pada sekitar 50% lansia yang menderita presbiakusis, yang berupa suatu peningkatan sensitivitas terhadap suara bicara yang keras. Tingkat suara bicara yang pada orang normal terdengar biasa, pada penderita tersebut menjadi sangat mengganggu.




 




C.  Penyebab




Secara garis besar factor penyebab yaitu factor genetic dan factor yang di dapat. Berikut ini penjelasannya




1.      Factor Genetik




Berupa gangguan pendengaran bilateral tetapi dapat pula asimetrik dan mungkin bersifat statis maupun progresif. Kelainan dapat bersifat dominan,resesif, berhubungan dsengan kromosom X ( contoh : Hunter’s syndrome ), kelainan mitokondria (Kearns Sayre syndrome) dan merupakan malformasi pada satu atau beberapa organ telinga.




2.      Factor yang di dapat




Banyak penyebab dari factor yang di dapat antara lain yaitu :




a.    Infeksi




b.    Neonatal Hiperbilirubinemia




c.    Masalah Perinatal




d.   Obat ototksik




e.    Trauma




f.     Neoplasma




 




D.  Faktor Resiko Pada Bayi




1.         Riwayat keluarga di temukan ketulian




2.         Infeksi intrauterine




3.         Abnormalitas pada kraniofasial




4.         Hiperbilirubinemia yang memerluka tranfusi tukar




5.         Penggunaan obat ototoksik aminoglikosida lebih dari 5 hari




6.         Meningitis bakteri




7.         Apgar score < 4 pada saat menit pertama setelah di lahirkan




8.         Memerlukan ventilasi mekanik lebih dari 5 hari




9.         Berat Badan < dari 1500 gram




10.     Manifestasi dari suatu sindroma yang melibatkan ketulian.




 




E.   Penilaian Gangguan Pendengaran




 




Anak terlalu kecil bukan sebagai halangan untuk melakukan penilaian definitive gangguan pendengaran terhadap anak terhadap status fungsi telinga tengah dan sensitive koklea serta jalur suara. Kecurigaan terhadap adanya gangguan pendengaran terhadap anak harus di lakukan secara tepat. Jenis pemeriksaan yang di rekomendasikan oleh American Academy of Pediatric (AAP) adalah pemeriksaan yang di sesuaikan dengan umur anak, anak harus merasa nyaman terhadap situasi pemeriksaan dan harus di lakukan pada tempat yang cukup sunyi dan gangguan visual dan audio yang minimal.




Secara fisiologis mekanisme jalur auditoris sampai ke korteks auditoris sangat kompleks. Terdapat 5 gelombang ysng mrncerminkan daerah yang di periksa, antara lain :




1.    Gelombang I timbul dari distal nervus  VIII




2.    Gelombang II berasal dari bagian proksimal nervus VIII dengan kemungkinan bagian distal nervus VIII dengan kemungkinan bagian distal nervus VIII masih ikut berperan




3.    Gelombang III ikut kompleks orivari superior




4.    Gelombang IV dari neuron ke tiga dari nekleus olivarius superior kompleks, nucleus kokleus dan lemnikus koklearis




5.    Gelombang V berasal dari kolikus inferior.




 




F.   Pemeriksaan Penunjang




1.      Pemeriksaan Dengan Garputala 
pendengaran melalui hantaran udara dinilai dengan menempatkan garputala yang telah digetarkan di dekat telinga sehingga suara harus melewati udara agar sampai ke telinga. 
Penurunan fungsi pendengaran atau ambang pendengaran subnormal bisa menunjukkan adanya kelainan pada saluran telinga, telinga tengah, telinga dalam, sarat pendengaran atau jalur saraf pendengaran di otak. pendengaran melalui hantaran tulang dinilai dengan menempatkan ujung pegangan garputala yang telah digetarkan pada prosesus mastoideus (tulang yang menonjol di belakang telinga). 
Getaran akan diteruskan ke seluruh tulang tengkorak, termasuk tulang koklea di telinga dalam. Koklea mengandung sel-sel rambut yang merubah getaran menjadi gelombang saraf.




2.    Audiometri 
Audiometri dapat mengukur penurunan fungsi pendengaran secara tepat, yaitu dengan menggunakan suatu alat elektronik (audiometer) yang menghasilkan suara dengan ketinggian dan volume tertentu. 
Ambang pendengaran untuk serangkaian nada ditentukan dengan mengurangi volume dari setiap nada sehingga penderita tidak lagi dapat mendengarnya
.
Telinga kiri dan telinga kanan diperiksa secara terpisah. 
Untuk mengukur pendengaran melalui hantaran udara digunakan earphone, sedangkan untuk mengukur pendengaran melalui hantaran tulang digunakan sebuah alat yang digetarkan, yang kemudian diletakkan pada prosesus mastoideus.
3.  Audimetri Ambang Bicara

Audiometri ambang bicara mengukur seberapa keras suara harus diucapkan supaya bisa dimengerti. 
Kepada penderita diperdengarkan kata-kata yang terdiri dari 2 suku kata yang memiliki aksentuasi yang sama, pada volume tertentu. 
Dilakukan perekaman terhadap volume dimana penderita dapat mengulang separuh kata-kata yang diucapkan dengan benar.
4. Diskriminasi 

Dengan diskriminasi dilakukan penilaian terhadap kemampuan untuk membedakan kata-kata yang bunyinya hampir sama. 
Digunakan kata-kata yang terdiri dari 1 suku kata, yang bunyinya hampir sama. 
Pada tuli konduktif, nilai diskriminasi (persentasi kata-kata yang diulang dengan benar) biasanya berada dalam batas normal. Pada tuli sensori, nilai diskriminasi berada di bawah normal. Pada tuli neural, nilai diskriminasi berada jauh di bawah normal.
5. Timpanometri 
Timpanometri merupakan sejenis audiometri, yang mengukur impedansi (tahanan terhadap tekanan) pada telinga tengah. 
Timpanometri digunakan untuk membantu menentukan penyebab dari tuli konduktif. 
Prosedur in tidak memerlukan partisipasi aktif dari penderita dan biasanya digunakan pada anak-anak. 

Timpanometer terdiri dari sebuah mikrofon dan sebuah sumber suara yang terus menerus menghasilkan suara dan dipasang di saluran telinga. 
Dengan alat ini bisa diketahui berapa banyak suara yang melalui telinga tengah dan berapa banyak suara yang dipantulkan kembali sebagai perubahan tekanan di saluran telinga. 
6. Respon Auditoris Batang Otak 
Pemeriksaan ini mengukur gelombang saraf di otak yang timbul akibat rangsangan pada saraf pendengaran. 
Respon auditoris batang otak juga dapat digunakan untuk memantau fungsi otak tertentu pada penderita koma atau penderita yang menjalani pembedahan otak.
7. Elektrokokleografi 
Elektrokokleografi digunakan untuk mengukur aktivitas koklea dan saraf pendengaran. 
Kadang pemeriksaan ini bisa membantu menentukan penyebab dari penurunan fungsi pendengaran sensorineural. 

Elektrokokleografi dan respon auditoris batang otak bisa digunakan untuk menilai pendengaran pada penderita yang tidak dapat atau tidak mau memberikan respon bawah sadar terhadap suara. 
Misalnya untuk mengetahui ketulian pada anak-anak dan bayi atau untuk memeriksa hipakusis psikogenik (orang yang berpura-pura tuli). 
Beberapa pemeriksaan pendengaran bisa mengetahui adanya kelainan pada daerah yang mengolah pendengaran di otak. 




G.    Diagnosa Keperawatan




1.      Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan kerusakan pendengaran




2.      Kerusakan aktivitas berhubungan dengan  ketidakseimbangan dalam beraktifitas karena hilangnya fungsi pendengaran.




3.      Cemas berhubungan dengan kurangnya informasi tentang gangguan pendengaran




4.      Resiko kekurangan interaksi social berhubungan dengan hambatan komunikasi




5.      Intoleransi aktivitas berhubungan dengan nyeri




6.      Gangguan harga diri rendah berhubungan dengan stigma berkenaan dengan kondisi




 




 




 




 




 




 




BAB III




PENUTUP




 




A.    KESIMPULAN




Gangguan Pendengaran adalah ketidak mampuan secara parsial atau total untuk mendengarkan suara pada salah satu atau kedua telinga. Pembagian gangguan pendengaran tergantung pada tingkatan beratnya gangguan pendengaran yaitu mulai dari gangguan ringan ( 20 – 39 dB ), gangguan pendengaran sedang ( 40 – 69 dB ), dan gangguan pendengaran berat ( 70 – 89 dB ). Factor penyebabnya yaitu genetic dan factor yang di dapat antara lain yaitu :Infeksi, Neonatal Hiperbilirubinemia, Masalah Perinatal,Obat ototksik, Trauma, Neoplasma




B.      




C.    SARAN




Diharapkan makalah ini bisa memerikan masukan bagi rekan- rekan mahasiswa, sebagai bekal untuk dapat memahami mengenai penyakit gangguan pendengaran menjadi bekalkan dalam pengaplikasian dan praktik bila menghadapi kasus yang kami bahas ini.




 




 




 




 




 








DAFTAR PUSTAKA




 




 




Smeltzer, Suzanne C. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Brunner & Suddarth Volume 3, ECG. Jakarta





       Sri Rukmini, dkk. Teknik Pemeriksaan THT. EGC. Jakarta. 2000




 




 Boles. Buku Ajar Penyakit THT. EGC. Jakarta. 1997




 




http://kumpulanaskep.blogspot.com/2012/06/asuhan-keperawatan-pada-klien-dengan.html di akses pada tanggal 13 April 2015 21.30 WIT




 



http://suliman07.mhs.unimus.ac.id/files/2011/11/ASKEPGANGGUANPENDENGARAN2.pdf di akses pada tanggal 13 April 2015 pukul 20.30 WIT

Kamis, 22 Oktober 2015

ASKEP HERNIA INGUINALIS



HERNIA INGUINALIS

TINJAUAN PUSTAKA

1.     KONSEP  DASAR

Kata Hernia berasal dari Bahasa Latin, herniae, yang berarti penonjolan isi suatu rongga melalui jaringan ikat tipis yang lemah (defek) pada dinding rongga itu, baik secara kongenital maupun didapat, yang memberi jalan keluar pada setiap alat tubuh selain yang biasa melalui dinding tersebut.(Mansjoer,2000:313).

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhi0G_KBLP2-mRA_xm4go9XemA6UKMmHr8M3pn0R3Ehsp_Nv7sQc4WHyGSlub5GFIPAbqKruNMbeHQIlCtylxoAg3yC5dS2EsFBbYMahE6QkX60EjuWSs3gzMs9vGM4_QilnY7ZCY2zaAQe/s200/2-HERNIADIAGRAM.jpg

Dalam Medicastore.com Hernia Inguinalis adalah suatu keadaan dimana sebagian usus masuk melalui sebuah lubang dinding perut kedalam kanalis inguinalis. Kanalis inguinalis adalah saluran berbentuk tabung, yang merupakan jalan tempat turunnya testis (buah zakar) dari perut ke dalam skrotum ( kantung zakar) sesaat sebelum bayi dilahirkan.
Jadi, Hernia Inguinalis adalah penonjolan sebagian usus melalui sebuah lubang dinding perut dilipat paha, baik didapat atau kongenital.

2.     PENGERTIAN
        Secara umum Hernia merupakan proskusi atau penonjolan isi suatu rongga dari berbagai organ internal melalui pembukaan abnormal atau kelemahan pada otot yang mengelilinginya dan kelemahan pada jaringan ikat suatu organ tersebut (Griffith, 1994).
        Hernia adalah suatu penonjolan isi suatu rongga melalui pembukaan yang abnormal atau kelemahannya suatu area dari suatu dinding pada rongga dimana ia terisi secara normal (Lewis,SM, 2003).
        Hernia inguinalis adalah hernia yang melalui anulus inguinalis internus/lateralis menelusuri kanalis inguinalis dan keluar rongga abdomen melalui anulus inguinalis externa/medialis (Mansjoer A,dkk 2000).
        Hernia inguinalis adalah prolaps sebagian usus ke dalam anulus inginalis di atas kantong skrotum, disebabkan oleh kelemahan atau kegagalan menutup yang bersifat kongenital. ( Cecily L. Betz, 2004).
        Hernia Inguinalis adalah  suatu penonjolan kandungan ruangan tubuh melalui dinding yang dalam keadaan normal tertutup (Ignatavicus,dkk 2004).
       Operasi hernia adalah tindakan pembedahan yang dilakukan untuk mengembalikan isi hernia pada posisi semula dan menutup cincin hernia.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhrwfAKyQO37iudZFM9zE_Ym0MmzU7FX0VpddtrsvX8eV09c_lYxBEZkPd9Jw6JeCCX6rMZspFUR_j47Wtln7MkRAEjVvQf58ldixYN_w_tITsKnAXiJ8rpqkX4Cfk1wzRBTPS51dSvGGin/s320/10.+Inguinal+hernia%28A%29.jpg


3.     ETIOLOGI
Hernia dapat terjadi pada semua umur, baik tua atau muda. Pada kanak-kanak atau bayi ini disebabkan karena:
1.    Ketidak patensian rongga yang tidak nyaman.
2.    Timbul karena lubang embrional yang tidak menutup atau melebar, akibat tekanan rongga perut yang meninggi.
3.    Cacat bawaan
4.    Anomaly congenital atau karena sebab didapat.
5.    Adanya prosesus vaginalis yang terbuka.
6.    Genetik
7.    Proses menua. Pada manusia umur lanjut jaringan penyangga makin melemah, manusia lanjut usia lebih cenderung menderita hernia inguinal direkta.
8.    Akitivitas fisik berat. Pekerjaan berat yang dilakukan dalam jangka lama juga dapat melemahkan dinding perut ( Oswani. 2000 : 217).

4.     KLASIFIKASI
Berdasarkan Proses terjadinta hernia di bagi atas :
a. Hernia congenital:
1.    Processus vaginalis peritoneum persisten
2.    Testis tidak samapi scrotum, sehingga processus tetap terbuka
3.    Penurunan baru terjadi 1-2 hari sebelum kelahiran, sehingga processus belum sempat menutupdan pada waktu dilahirkan masih tetap terbuka
4.    Predileksi tempat: sisi kanan karena testis kanan mengalami desensus
5.     Dapat timbul pada masa bayi atau sesudah dewasa.
6.    Hernia indirect pada bayi berhubungan dengan criptocismus dan hidrocele
b. Hernia didapat:
1.    Ada factor predisposisi
2.    Kelemahan struktur aponeurosis dan fascia tranversa
3.    Pada orang tua karena degenerasi/atropi
4.    Tekanan intra abdomen meningkat
5.    Pekerjaan mengangkat benda-benda berat
6.    Batuk kronik
7.    Gangguan BAB, missal struktur ani, feses keras
8.    Gangguan BAK, mis: BPH, veskolitiasis
9.    Sering melahirkan: hernia femoralis


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhDd8Rv36RPOAuKrR6zPu4XwZLGcGJsH4xE6OXbkdHxcg7rgE97kLoXd7o4JTwYJedqTWkTCAEFio9q1AQ7Ja20FQkRETU2ulmkTmDtUvk9RS3_6DVzmWvyQPr32XfLgQ4M7XMAWXOJj3VB/s200/hernia.jpg


5.     TANDA DAN GEJALA
Adapun tanda dan gejala yang sering timbul pada klien dengan hernia inguinalis antara lain umumnya penderita mengatakan turun berok atau mengatakan adanya benjolan diselangkangan/kemaluan, biasanya hernia inguinalis menyebabkan pembengkakan diselangkangan dan skrotum atau daerah inguinalis tanpa rasa nyeri. Jika berdiri benjolan bisa membesar dan jika berbaring benjolan akan mengecil karena isinya keluar dan masuk dibawah pengaruh gaya tarik bumi, selain itu dapat pula ditemukan gejala mual dan muntah bila telah ada komplikasi.

6.     PATOFISIOLOGI
       Hernia kebanyakan diderita oleh orang-orang yang berusia lanjut karena pada usia rentan tersebut dinding otot yang telah melemah dan mengendur untuk menjaga agar organ tubuh tetap pada tempatnya sehingga mempercepat proses terjadinya hernia. Kegiatan fisik yang berlebihan juga diduga dapat menyebabkan hernia cepat berkembang seperti mengangkat barang-barang yang terlalu berat. Hal-hal lain yang dapat menyebabkan terjadinya hernia yaitu batuk kronik, penyakit paru kronik, obesitas dan bawaan lahir (congenital). Hernia terjadi jika bagian dari organ perut (biasanya usus) menonjol melalui suatu titik yang lemah atau robekan pada dinding otot yang tipis, yang menahan organ perut pada tempatnya.
      Hernia inguinalis dapat terjadi karena anomali congenital atau karena sebab yang didapat, dan bisa terjadi akibat penutupan tuba (prosesus vaginalias) yang tidak lengkap antara abdomen dan skrotum (atau uterus pada anak perempuan), menyebabkan penurunan bagian intestine. Inkarserata terjadi ketika bagian desenden terperangkap kuat di dalam kantung hernia yang mengganggu aliran darah. Tonjolan tersebut akan membesar bila ada tekanan intra abdomen seperti pada saat hamil, batuk kronis, pekerjaan mengangkat benda berat, mengejan, menangis, dan miksi yang mengejan misalnya pada prostat hipertrofi. Isi kantong hernia biasanya dapat dikurangi dengan memberi tekanan perlahan, biasanya dilakukan pemulihan melalui pembedahan (herniorafi).

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhhZfxlLaWCeE6kTSkHQdNNeofvZxWtFTsmdaF1jEaFCOxVtmm00WTaW0aV_Mpv5PnMEHErOrn5AovycZVpguINIxt_oqtawCSSRZgk3If-SRpmnLtE8xwJbRCzZxS9oyZnAwXRa9GhLHY/s640/hernia_inguinalis2.jpg

7.  PENATA LAKSANAAN
Menurut Betz (2002), Junadi, dkk (1982) penatalaksanaan pada klien dengan hernia adalah sebagai berikut:
1.   Tindakan Pembedahan
Tujuannya adalah untuk mengembalikan (reposisi) terhadap benjolan henia tersebut. Tindakan bedah pada hernia disebut herniotomi yaitu dengan memotong kantung hernia lalu mengikatnya dan herniorafi dengan perbaikan defek dengan pemasangan jaring melalui operasi terbuka (laparoskopik). Pada elektif maka kanalis dibuka isi hernia dimasukkan kantong diikat dan dilakukan bassini plasty untuk memperkuat dinding belakang kanalis inguinalis. Pada bedah darurat pada prinsipnya seperti bedah elektif cincin hernia langsung dicari dan dipotong, usus dilihat apakah vital atau tidak, bila vital dikembalikan ke rongga perut dan bila tidak dilakukan reseksi usus dan anastomosis ”end to end”. Pada ireponibilis maka diusahakan agar isi hernia dapat dimasukkan kembali, penderita istirahat baring dan dipuasakan, dilakukan tekanan yang kontinue pada benjolan misalnya dengan bantal pasir baik juga dilakukan kompres es untuk mengurangi pembengkakan lakukan secara berulang sehingga isi hernia masuk untuk kemudian dilakukan bedah elektif dikemudian hari.
2.   Terapi Hernia
      a.  Terapi konservatif berupa: penggunaan alat penyangga dapat dipakai sebagai pengelolaan sementara, misalnya pemakaian korset pada hernia ventralis sementara itu pada hernia inguinalis pemakaian korset tidak dianjurkan
      b. Hernioplastik endoskopik: merupakan pendekatan dengan penderita berbaring dalam posisi trendelenburg 40º digunakan tiga trokar yang pertama digaris tengah dekat umbilikus dan dua linnya dilateral. Keuntungannya mobiditas ringan, penderita kurang merasa nyeri, dan keadaan umum kurang terganggu dibandingkan dengan operasi dari luar.
3.   Penatalaksanaan Keperawatan
a.    Kaji tanda-tanda strangulasi
b.    Lakukan  perawatan  pasca  operatif :  hernia  inguinalis  memerlukan perbaikan secara bedah
c.    Tanggung jawab perawat untuk perawatan pasca operatif antara lain:
1.    Kaji luka infeksi: amati luka insisi terhadap adanya kemerahan atau drainase, pantau suhu.
2.    Pertahankan status hidrasi yang baik: beri cairan IV bila diprogramkan, pantau asupan dan keluaran cairan, tingkatkan diet.
3.    Tingkatkan rasa nyaman: berikan analgesik sesuai kebutuhan, pada klien yang menjalani hidrokelektomi gunakan kantung es dan penyokong untuk membantu meredakan nyeri dan pembengkakan sesuai indikasi.

ASUHAN KEPERAWATAN
PENGKAJIAN
1.     Identitas/Biodata
Nama, umur, kelamin, agama, alamat, pekerjaan, suku bangsa, pendidikan, Tgl masuk RS, No RM. Dr yang merawat
2.     Riwayat Kesehatan:
1.    Keluhan utama
2.    Riwayat kesehatan sekarang P, Q, R, S, T
3.    Riwayat kesehatan masa lalu
4.    Keadaan kesehatan keluarga
5.    Keadaan psikologis
6.    Keadaan Sosial ekonomi
7.    Keadaan Spiritual
8.    Pola Kehidupan sehari-hari ( makan minum, eliminasi, Istirahat dan tidur, personal hgene,aktifitas, sexual,
9.    Pemeriksaan Penunjang:
-  Laboratorium
-  Rontgen
3.     Diagnosa Keperawatan
      Periode post-operatif (Doenges, 1999).
1.    Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan diskontuinitas jaringan akibat tindakan operasi.
2.    Resiko terjadi infeksi berhubungan dengan luka insisi bedah/operasi.
3.    Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri post operasi.
4.    Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum.


4.     Asuhan Keperawatan
1.     Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan diskontuinitas jaringan akibat tindakan operasi.
Tujuan : Nyeri hilang atau berkurang
Kriteria Hasil : -  klien mengungkapkan rasa nyeri berkurang
                        -  tanda-tanda vital normal
                        -  pasien tampak tenang dan rileks

INTERVENSI
RASIONALISASI
·           pantau tanda-tanda vital, intensitas/skala nyeri

·           Menganjurkan klien istrahat ditempat tidur

·           Atur posisi pasien senyaman mungkin



·           Ajarkan tehnik relaksasi dan napas dalam


·           Kolaborasi untuk pemberian anal gesik

·           Mengenal dan memudahkan dalam melakukan tindakan keperawatan

·           istirahat untuk mengurangi intesitas nyeri

·           posisi yang tepat mengurangi penekanan dan mencegah ketegangan otot serta mengurangi nyeri.

·           relaksasi mengurangi ketegangan dan membuat perasaan lebih nyaman

·           analgetik bekerja pada reseptor hypotalamus sehingga dapat membloknosireseptor sehingga nyeri berkurang dan pasien menjadi lebih nyaman

2.     Resiko terjadinya infeksi berhubungan dengan luka insisi bedah/operasi.
Tujuan : tidak ada infeksi
Kriteria hasil : -  tidak ada tanda-tanda infeksi seperti pus.
                       -  luka bersih tidak lembab dan kotor.
                       -  Tanda-tanda vital normal

INTERVENSI
RASIONALISASI
·           Pantau tanda-tanda vital.







·           Lakukan perawatan luka dengan teknik aseptik.

·           Lakukan perawatan terhadap prosedur inpasif seperti infus, kateter, drainase luka, dll.

·           Jika ditemukan tanda infeksi
kolaborasi untuk pemeriksaan darah, seperti Hb dan leukosit.

·           Kolaborasi untuk pemberian antibiotik

·           Jika ada peningkatan tanda-tanda vital besar kemungkinan adanya gejala infeksi karena tubuh berusaha intuk melawan mikroorganisme asing yang masuk maka terjadi peningkatan tanda vital.

·           perawatan luka dengan teknik aseptik mencegah risiko infeksi.

·           untuk mengurangi risiko infeksi nosokomial.


·           penurunan Hb dan peningkatan jumlah leukosit dari normal membuktikan adanya tanda-tanda infeksi.
·           antibiotik mencegah perkembangan mikroorganisme patogen

3.     Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri post operasi.
Tujuan : pasien dapat tidur dengan nyaman
Kriteria hasil : - pasien mengungkapkan kemampuan untuk tidur.
                       - pasien tidak merasa lelah ketika bangun tidur
                       - kualitas dan kuantitas tidur normal

INTERVENSI
RASIONALISASI
·           Berikan kesempatan untuk beristirahat / tidur sejenak, anjurkan latihan pada siang hari, turunkan aktivitas mental / fisik pada sore hari.



·           Hindari penggunaan ”Pengikatan” secara terus menerus


·           Evaluasi tingkat stres / orientasi sesuai perkembangan hari demi hari.



·           Lengkapi jadwal tidur dan ritoal secara teratur. Katakan pada pasien bahwa saat ini adalah waktu untuk tidur.



·           Berikan makanan kecil sore hari, susu hangat, mandi dan masase punggung.

·           Turunkan jumlah minum pada sore hari. Lakukan berkemih sebelum tidur.


·           Putarkan musik yang lembut atau ”suara yang jernih”



·           Kolaborasi pemberian  obat sesuai indikasi : Antidepresi, seperti amitriptilin (Elavil); deksepin (Senequan) dan trasolon (Desyrel).




·           Koral hidrat; oksazepam (Serax); triazolam (Halcion).



·           Hindari penggunaan difenhidramin (Benadry1).



·           Karena aktivitas fisik dan mental yang lama mengakibatkan kelelahan yang dapat mengakibatkan kebingungan, aktivitas yang terprogram tanpa stimulasi berlebihan yang meningkatkan waktu tidur.

·           Risiko gangguan sensori, meningkatkan agitasi dan menghambat waktu istirahat.

·           Peningkatan kebingungan, disorientasi dan tingkah laku yang tidak kooperatif (sindrom sundowner) dapat melanggar pola tidur yang mencapai tidur pulas.

·           Pengatan bahwa saatnya tidur dan mempertahankan kestabilan lingkungan. Catatan : Penundaan waktu tidur mungkin diindikasikan untuk memungkin pasien membuang kelebihan energi dan memfasilitas tidur.
·           Meningkatkan relaksasi dengan perasan mengantuk


·           Menurunkan kebutuhan akan bangun untuk pergi kekamar mandi/berkemih selama malam hari.

·           Menurunkan stimulasi sensori dengan menghambat suara-suara lain dari lingkungan sekitar yang akan menghambat tidur nyeyak.

·           Mungkin efektif dalam menangani pseudodimensia atau depresi, meningkatkan kemampuan untuk tidur, tetapi anti kolinergik dapat mencetuskan dan memperburuk kognitif dalam efek samping tertentu (seperti hipotensi ortostatik) yang membatasi manfaat yang maksimal.

·           Gunakan dengan hemat, hipnotik dosis rendah mungkin efektif dalam mengatasi insomia atau sindrom sundowner.

·           Bila digunakan untuk tidur, obat ini sekarang dikontraindikasikan karena obat ini mempengaruhi produksi asetilkon yang sudah dihambat dalam otak pasien dengan DAT ini.

4.         Intoleransi aktivitas berhubungan dengankelemahan umum
Tujuan : klien dapat melakukan aktivitas ringan atau total.
Kriteria hasil : -  perilaku menampakan kemampuan untuk memenuhi  
                          kebutuhan diri.
                       -  pasien mengungkapkan mampu untuk melakukan   
                          beberapa aktivitas tanpa dibantu.
                       -  Koordinasi otot, tulang dan anggota gerak lainya baik.
INTERVENSI
RASIONALISASI
·                Rencanakan periode istirahat yang cukup.



·                Berikan latihan aktivitas secara bertahap




·                Bantu pasien dalam memenuhi kebutuhan sesuai kebutuhan


·                Setelah latihan dan aktivitas kaji respons pasien

·           mengurangi aktivitas yang tidak diperlukan, dan energi terkumpul dapat digunakan untuk aktivitas seperlunya secar optimal.

·           tahapan-tahapan yang diberikan membantu proses aktivitas secara perlahan dengan menghemat tenaga namun tujuan yang tepat, mobilisasi dini.

·           mengurangi pemakaian energi sampai kekuatan pasien pulih kembali.

·           menjaga kemungkinan adanya respons abnormal dari tubuh sebagai akibat dari latihan.




























DAFTAR PUSTATAKA

1.    Barbara Engram, Rencana Asuhan Keperawatan Medical Bedah, EGC, Jakarta, 1998.
2.    Doenges, Marilynn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian pasien, ed.3. EGC, Jakarta.
3.    Griffith H. Winter, Buku Pintar Kesehatan, EGC, Jakarta, 1994.
4.    Lynda Juall carpernito, Rencana Asuhan keperawatan dan dokumentasi keperawatan, EGC, Jakarta, 1995.
5.    Nettina, S.M, 2001, Pedoman Praktik Keperawatan. Jakarta : EGC.
6.    Oswari, E. 2000. Bedah dan Perawatannya. Jakarta : FKUI.
7.    W.A. Dorland Newman, Kamus Kedokteran Dorland, EGC, Jakarta, 2002.
8.    Poppy Kumala dkk. Kamus Saku Kedokteran Dorland. Edisi 25. Jakarta : EGC, 1998.
9.    Mansjoer, Arif. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 3. Jilid II. Media Aesculapius FKUI. Jakarta,2000.
10. Black, M., Joyce, Ester, 1997, Medical Surgical Nursing Clinical Management for Continuity of Care, USA
11. Brunner and Suddarth, 1980, Medical Surgical Nursing, J.B. Lippincott Company, Philadelphia, USA
12. Donna, L., Wong, Marilyn Hockenberry-Eaton, Marilyn L. Winke David Wilson, et al, 1999, Wholey and Wong’s Nursing Care of and Children, St. Louis, Mosby, USA
13. Kendarto, 1994, Hernia, HDW Ilmu Bedah I, Fakultas Kedokteran, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
14. NANDA. 2005. Nursing Diagnosis : Definition and Classification 2005-2006. NANDA International. Philadelphia.
15. Long Barbara C. 1996. Perawatan Medikal Bedah. Bandung, Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan keperawatan Pajajaran.
16. Martini. H. Frederic. 2001. Anatomi and Physiologi, Fifth edition. Philadelphia