Sabtu, 31 Oktober 2015
GANGGUAN PENDENGARAN PADA ANAK
Ketulian juga bisa dialami ketika anak pada masa pertumbuhan, misalnya pada saat lahir, anak lahir normal hanya saja menjelang usia 10 tahun ia mengalami sakit sehingga diberikan obat dengan dosis tinggi sehingga menyerang telinganya.
1. Pemeriksaan Dengan Garputala
2. Audiometri
Kamis, 22 Oktober 2015
ASKEP HERNIA INGUINALIS
HERNIA
INGUINALIS
TINJAUAN PUSTAKA
1. KONSEP DASAR
Kata
Hernia berasal dari Bahasa Latin, herniae, yang berarti penonjolan isi suatu
rongga melalui jaringan ikat tipis yang lemah (defek) pada dinding rongga itu,
baik secara kongenital maupun didapat, yang memberi jalan keluar pada setiap
alat tubuh selain yang biasa melalui dinding tersebut.(Mansjoer,2000:313).
Dalam
Medicastore.com Hernia Inguinalis adalah suatu keadaan dimana sebagian usus
masuk melalui sebuah lubang dinding perut kedalam kanalis inguinalis. Kanalis
inguinalis adalah saluran berbentuk tabung, yang merupakan jalan tempat
turunnya testis (buah zakar) dari perut ke dalam skrotum ( kantung zakar)
sesaat sebelum bayi dilahirkan.
Jadi,
Hernia Inguinalis adalah penonjolan sebagian usus melalui sebuah lubang dinding
perut dilipat paha, baik didapat atau kongenital.
2. PENGERTIAN
Secara umum Hernia merupakan proskusi
atau penonjolan isi suatu rongga dari berbagai organ internal melalui pembukaan
abnormal atau kelemahan pada otot yang mengelilinginya dan kelemahan pada
jaringan ikat suatu organ tersebut (Griffith, 1994).
Hernia
adalah suatu penonjolan isi suatu rongga melalui pembukaan yang abnormal atau
kelemahannya suatu area dari suatu dinding pada rongga dimana ia terisi secara
normal (Lewis,SM, 2003).
Hernia inguinalis adalah hernia yang
melalui anulus inguinalis internus/lateralis menelusuri kanalis inguinalis dan
keluar rongga abdomen melalui anulus inguinalis externa/medialis (Mansjoer
A,dkk 2000).
Hernia inguinalis adalah prolaps
sebagian usus ke dalam anulus inginalis di atas kantong skrotum, disebabkan
oleh kelemahan atau kegagalan menutup yang bersifat kongenital. ( Cecily L.
Betz, 2004).
Hernia Inguinalis adalah suatu
penonjolan kandungan ruangan tubuh melalui dinding yang dalam keadaan normal
tertutup (Ignatavicus,dkk 2004).
Operasi hernia adalah tindakan pembedahan
yang dilakukan untuk mengembalikan isi hernia pada posisi semula dan menutup
cincin hernia.
3. ETIOLOGI
Hernia
dapat terjadi pada semua umur, baik tua atau muda. Pada kanak-kanak atau bayi
ini disebabkan karena:
1. Ketidak
patensian rongga yang tidak nyaman.
2. Timbul
karena lubang embrional yang tidak menutup atau melebar, akibat tekanan rongga
perut yang meninggi.
3. Cacat
bawaan
4. Anomaly
congenital atau karena sebab didapat.
5. Adanya
prosesus vaginalis yang terbuka.
6. Genetik
7. Proses
menua. Pada manusia umur lanjut jaringan penyangga makin melemah, manusia
lanjut usia lebih cenderung menderita hernia inguinal direkta.
8. Akitivitas
fisik berat. Pekerjaan berat yang dilakukan dalam jangka lama juga dapat
melemahkan dinding perut ( Oswani. 2000 : 217).
4. KLASIFIKASI
Berdasarkan
Proses terjadinta hernia di bagi atas :
a. Hernia congenital:
a. Hernia congenital:
1. Processus
vaginalis peritoneum persisten
2. Testis
tidak samapi scrotum, sehingga processus tetap terbuka
3. Penurunan
baru terjadi 1-2 hari sebelum kelahiran, sehingga processus belum sempat
menutupdan pada waktu dilahirkan masih tetap terbuka
4. Predileksi
tempat: sisi kanan karena testis kanan mengalami desensus
5. Dapat timbul pada masa bayi atau sesudah
dewasa.
6. Hernia
indirect pada bayi berhubungan dengan criptocismus dan hidrocele
b.
Hernia didapat:
1. Ada
factor predisposisi
2. Kelemahan
struktur aponeurosis dan fascia tranversa
3. Pada
orang tua karena degenerasi/atropi
4. Tekanan
intra abdomen meningkat
5. Pekerjaan
mengangkat benda-benda berat
6. Batuk
kronik
7. Gangguan
BAB, missal struktur ani, feses keras
8. Gangguan
BAK, mis: BPH, veskolitiasis
9. Sering
melahirkan: hernia femoralis
5. TANDA DAN GEJALA
Adapun tanda dan gejala yang sering
timbul pada klien dengan hernia inguinalis antara lain umumnya penderita mengatakan
turun berok atau mengatakan adanya benjolan diselangkangan/kemaluan, biasanya
hernia inguinalis menyebabkan pembengkakan diselangkangan dan skrotum atau
daerah inguinalis tanpa rasa nyeri. Jika berdiri benjolan bisa membesar dan
jika berbaring benjolan akan mengecil karena isinya keluar dan masuk dibawah
pengaruh gaya tarik bumi, selain itu dapat pula ditemukan gejala mual dan
muntah bila telah ada komplikasi.
6. PATOFISIOLOGI
Hernia kebanyakan diderita oleh
orang-orang yang berusia lanjut karena pada usia rentan tersebut dinding otot
yang telah melemah dan mengendur untuk menjaga agar organ tubuh tetap pada
tempatnya sehingga mempercepat proses terjadinya hernia. Kegiatan fisik yang
berlebihan juga diduga dapat menyebabkan hernia cepat berkembang seperti
mengangkat barang-barang yang terlalu berat. Hal-hal lain yang dapat
menyebabkan terjadinya hernia yaitu batuk kronik, penyakit paru kronik,
obesitas dan bawaan lahir (congenital). Hernia terjadi jika bagian dari organ
perut (biasanya usus) menonjol melalui suatu titik yang lemah atau robekan pada
dinding otot yang tipis, yang menahan organ perut pada tempatnya.
Hernia inguinalis dapat terjadi karena
anomali congenital atau karena sebab yang didapat, dan bisa terjadi akibat
penutupan tuba (prosesus vaginalias) yang tidak lengkap antara abdomen dan
skrotum (atau uterus pada anak perempuan), menyebabkan penurunan bagian
intestine. Inkarserata terjadi ketika bagian desenden terperangkap kuat di
dalam kantung hernia yang mengganggu aliran darah. Tonjolan tersebut akan
membesar bila ada tekanan intra abdomen seperti pada saat hamil, batuk kronis,
pekerjaan mengangkat benda berat, mengejan, menangis, dan miksi yang mengejan
misalnya pada prostat hipertrofi. Isi kantong hernia biasanya dapat dikurangi
dengan memberi tekanan perlahan, biasanya dilakukan pemulihan melalui
pembedahan (herniorafi).
7. PENATA LAKSANAAN
Menurut Betz (2002), Junadi, dkk (1982)
penatalaksanaan pada klien dengan hernia adalah sebagai berikut:
1. Tindakan
Pembedahan
Tujuannya adalah untuk mengembalikan
(reposisi) terhadap benjolan henia tersebut. Tindakan bedah pada hernia disebut
herniotomi yaitu dengan memotong kantung hernia lalu mengikatnya dan herniorafi
dengan perbaikan defek dengan pemasangan jaring melalui operasi terbuka
(laparoskopik). Pada elektif maka kanalis dibuka isi hernia dimasukkan kantong
diikat dan dilakukan bassini plasty untuk memperkuat dinding belakang kanalis
inguinalis. Pada bedah darurat pada prinsipnya seperti bedah elektif cincin
hernia langsung dicari dan dipotong, usus dilihat apakah vital atau tidak, bila
vital dikembalikan ke rongga perut dan bila tidak dilakukan reseksi usus dan
anastomosis ”end to end”. Pada ireponibilis maka diusahakan agar isi hernia
dapat dimasukkan kembali, penderita istirahat baring dan dipuasakan, dilakukan
tekanan yang kontinue pada benjolan misalnya dengan bantal pasir baik juga
dilakukan kompres es untuk mengurangi pembengkakan lakukan secara berulang
sehingga isi hernia masuk untuk kemudian dilakukan bedah elektif dikemudian
hari.
2. Terapi Hernia
a. Terapi konservatif berupa:
penggunaan alat penyangga dapat dipakai sebagai pengelolaan sementara, misalnya
pemakaian korset pada hernia ventralis sementara itu pada hernia inguinalis
pemakaian korset tidak dianjurkan
b. Hernioplastik endoskopik:
merupakan pendekatan dengan penderita berbaring dalam posisi trendelenburg 40º
digunakan tiga trokar yang pertama digaris tengah dekat umbilikus dan dua
linnya dilateral. Keuntungannya mobiditas ringan, penderita kurang merasa
nyeri, dan keadaan umum kurang terganggu dibandingkan dengan operasi dari luar.
3. Penatalaksanaan
Keperawatan
a. Kaji tanda-tanda strangulasi
b. Lakukan
perawatan pasca operatif :
hernia inguinalis memerlukan perbaikan secara bedah
c. Tanggung jawab perawat untuk perawatan
pasca operatif antara lain:
1. Kaji luka infeksi: amati luka insisi
terhadap adanya kemerahan atau drainase, pantau suhu.
2. Pertahankan status hidrasi yang baik:
beri cairan IV bila diprogramkan, pantau asupan dan keluaran cairan, tingkatkan
diet.
3. Tingkatkan rasa nyaman: berikan
analgesik sesuai kebutuhan, pada klien yang menjalani hidrokelektomi gunakan
kantung es dan penyokong untuk membantu meredakan nyeri dan pembengkakan sesuai
indikasi.
ASUHAN KEPERAWATAN
PENGKAJIAN
1. Identitas/Biodata
Nama, umur, kelamin, agama, alamat, pekerjaan, suku
bangsa, pendidikan, Tgl masuk RS, No RM. Dr yang merawat
2. Riwayat Kesehatan:
1. Keluhan utama
2. Riwayat
kesehatan sekarang P, Q, R, S, T
3. Riwayat
kesehatan masa lalu
4. Keadaan
kesehatan keluarga
5. Keadaan
psikologis
6. Keadaan Sosial
ekonomi
7. Keadaan
Spiritual
8. Pola Kehidupan
sehari-hari (
makan minum, eliminasi, Istirahat dan tidur, personal hgene,aktifitas, sexual,
9. Pemeriksaan Penunjang:
- Laboratorium
- Rontgen
- Laboratorium
- Rontgen
3. Diagnosa
Keperawatan
Periode post-operatif (Doenges, 1999).
1. Gangguan
rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan diskontuinitas jaringan akibat tindakan
operasi.
2. Resiko
terjadi infeksi berhubungan dengan luka insisi bedah/operasi.
3. Gangguan
pola tidur berhubungan dengan nyeri post operasi.
4. Intoleransi
aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum.
4. Asuhan
Keperawatan
1. Gangguan
rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan diskontuinitas jaringan akibat tindakan
operasi.
Tujuan
: Nyeri hilang atau berkurang
Kriteria
Hasil : - klien mengungkapkan rasa nyeri
berkurang
- tanda-tanda vital normal
- pasien tampak tenang dan rileks
|
INTERVENSI
|
RASIONALISASI
|
|
·
pantau tanda-tanda vital,
intensitas/skala nyeri
·
Menganjurkan klien istrahat ditempat tidur
·
Atur posisi pasien
senyaman mungkin
·
Ajarkan tehnik relaksasi
dan napas dalam
·
Kolaborasi untuk pemberian
anal gesik
|
·
Mengenal dan memudahkan dalam
melakukan tindakan keperawatan
·
istirahat untuk mengurangi
intesitas nyeri
·
posisi yang tepat
mengurangi penekanan dan mencegah ketegangan otot serta mengurangi nyeri.
·
relaksasi mengurangi ketegangan
dan membuat perasaan lebih nyaman
·
analgetik bekerja pada reseptor
hypotalamus sehingga dapat membloknosireseptor sehingga nyeri berkurang dan
pasien menjadi lebih nyaman
|
2. Resiko
terjadinya infeksi berhubungan dengan luka insisi bedah/operasi.
Tujuan
: tidak ada infeksi
Kriteria
hasil : - tidak ada tanda-tanda infeksi
seperti pus.
- luka bersih tidak lembab dan kotor.
- Tanda-tanda vital normal
|
INTERVENSI
|
RASIONALISASI
|
|
·
Pantau tanda-tanda vital.
·
Lakukan perawatan luka
dengan teknik aseptik.
·
Lakukan perawatan terhadap
prosedur inpasif seperti infus, kateter, drainase luka, dll.
·
Jika ditemukan tanda
infeksi
kolaborasi
untuk pemeriksaan darah, seperti Hb dan leukosit.
·
Kolaborasi untuk pemberian
antibiotik
|
·
Jika ada peningkatan
tanda-tanda vital besar kemungkinan adanya gejala infeksi karena tubuh
berusaha intuk melawan mikroorganisme asing yang masuk maka terjadi
peningkatan tanda vital.
·
perawatan luka dengan
teknik aseptik mencegah risiko infeksi.
·
untuk mengurangi risiko
infeksi nosokomial.
·
penurunan Hb dan
peningkatan jumlah leukosit dari normal membuktikan adanya tanda-tanda
infeksi.
·
antibiotik mencegah
perkembangan mikroorganisme patogen
|
3. Gangguan
pola tidur berhubungan dengan nyeri post operasi.
Tujuan
: pasien dapat tidur dengan nyaman
Kriteria
hasil : - pasien mengungkapkan kemampuan untuk tidur.
- pasien tidak merasa
lelah ketika bangun tidur
- kualitas dan kuantitas
tidur normal
|
INTERVENSI
|
RASIONALISASI
|
|
·
Berikan kesempatan untuk
beristirahat / tidur sejenak, anjurkan latihan pada siang hari, turunkan
aktivitas mental / fisik pada sore hari.
·
Hindari penggunaan
”Pengikatan” secara terus menerus
·
Evaluasi tingkat stres /
orientasi sesuai perkembangan hari demi hari.
·
Lengkapi jadwal tidur dan
ritoal secara teratur. Katakan pada pasien bahwa saat ini adalah waktu untuk
tidur.
·
Berikan makanan kecil sore
hari, susu hangat, mandi dan masase punggung.
·
Turunkan jumlah minum pada
sore hari. Lakukan berkemih sebelum tidur.
·
Putarkan musik yang lembut
atau ”suara yang jernih”
·
Kolaborasi pemberian obat sesuai indikasi : Antidepresi, seperti
amitriptilin (Elavil); deksepin (Senequan) dan trasolon (Desyrel).
·
Koral hidrat; oksazepam
(Serax); triazolam (Halcion).
·
Hindari penggunaan
difenhidramin (Benadry1).
|
·
Karena aktivitas fisik dan
mental yang lama mengakibatkan kelelahan yang dapat mengakibatkan
kebingungan, aktivitas yang terprogram tanpa stimulasi berlebihan yang
meningkatkan waktu tidur.
·
Risiko gangguan sensori,
meningkatkan agitasi dan menghambat waktu istirahat.
·
Peningkatan kebingungan,
disorientasi dan tingkah laku yang tidak kooperatif (sindrom sundowner) dapat
melanggar pola tidur yang mencapai tidur pulas.
·
Pengatan bahwa saatnya
tidur dan mempertahankan kestabilan lingkungan. Catatan : Penundaan waktu
tidur mungkin diindikasikan untuk memungkin pasien membuang kelebihan energi
dan memfasilitas tidur.
·
Meningkatkan relaksasi
dengan perasan mengantuk
·
Menurunkan kebutuhan akan
bangun untuk pergi kekamar mandi/berkemih selama malam hari.
·
Menurunkan stimulasi
sensori dengan menghambat suara-suara lain dari lingkungan sekitar yang akan
menghambat tidur nyeyak.
·
Mungkin efektif dalam
menangani pseudodimensia atau depresi, meningkatkan kemampuan untuk tidur,
tetapi anti kolinergik dapat mencetuskan dan memperburuk kognitif dalam efek
samping tertentu (seperti hipotensi ortostatik) yang membatasi manfaat yang
maksimal.
·
Gunakan dengan hemat,
hipnotik dosis rendah mungkin efektif dalam mengatasi insomia atau sindrom
sundowner.
·
Bila digunakan untuk
tidur, obat ini sekarang dikontraindikasikan karena obat ini mempengaruhi
produksi asetilkon yang sudah dihambat dalam otak pasien dengan DAT ini.
|
4.
Intoleransi aktivitas
berhubungan dengankelemahan umum
Tujuan
: klien dapat melakukan aktivitas ringan atau total.
Kriteria hasil : -
perilaku menampakan kemampuan untuk memenuhi
kebutuhan diri.
- pasien mengungkapkan mampu
untuk melakukan
beberapa aktivitas tanpa dibantu.
-
Koordinasi otot, tulang dan anggota gerak lainya baik.
|
INTERVENSI
|
RASIONALISASI
|
|
·
Rencanakan periode
istirahat yang cukup.
·
Berikan latihan aktivitas
secara bertahap
·
Bantu pasien dalam
memenuhi kebutuhan sesuai kebutuhan
·
Setelah latihan dan
aktivitas kaji respons pasien
|
·
mengurangi aktivitas yang
tidak diperlukan, dan energi terkumpul dapat digunakan untuk aktivitas
seperlunya secar optimal.
·
tahapan-tahapan yang
diberikan membantu proses aktivitas secara perlahan dengan menghemat tenaga
namun tujuan yang tepat, mobilisasi dini.
·
mengurangi pemakaian
energi sampai kekuatan pasien pulih kembali.
·
menjaga kemungkinan adanya
respons abnormal dari tubuh sebagai akibat dari latihan.
|
DAFTAR PUSTATAKA
1. Barbara
Engram, Rencana Asuhan Keperawatan Medical Bedah, EGC, Jakarta, 1998.
2. Doenges,
Marilynn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan pedoman untuk perencanaan dan
pendokumentasian pasien, ed.3. EGC, Jakarta.
3. Griffith
H. Winter, Buku Pintar Kesehatan, EGC, Jakarta, 1994.
4. Lynda
Juall carpernito, Rencana Asuhan keperawatan dan dokumentasi keperawatan, EGC,
Jakarta, 1995.
5. Nettina,
S.M, 2001, Pedoman Praktik Keperawatan. Jakarta : EGC.
6. Oswari,
E. 2000. Bedah dan Perawatannya. Jakarta : FKUI.
7. W.A.
Dorland Newman, Kamus Kedokteran Dorland, EGC, Jakarta, 2002.
8. Poppy Kumala dkk. Kamus Saku
Kedokteran Dorland. Edisi 25. Jakarta : EGC, 1998.
9.
Mansjoer,
Arif. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 3. Jilid II. Media Aesculapius FKUI.
Jakarta,2000.
10. Black, M., Joyce, Ester, 1997,
Medical Surgical Nursing Clinical Management for Continuity of Care, USA
11. Brunner and Suddarth, 1980, Medical
Surgical Nursing, J.B. Lippincott Company, Philadelphia, USA
12. Donna, L., Wong, Marilyn
Hockenberry-Eaton, Marilyn L. Winke David Wilson, et al, 1999, Wholey and
Wong’s Nursing Care of and Children, St. Louis, Mosby, USA
13. Kendarto, 1994, Hernia, HDW Ilmu
Bedah I, Fakultas Kedokteran, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
14. NANDA. 2005. Nursing Diagnosis :
Definition and Classification 2005-2006. NANDA International. Philadelphia.
15. Long Barbara C. 1996. Perawatan
Medikal Bedah. Bandung, Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan keperawatan
Pajajaran.
16. Martini. H. Frederic. 2001. Anatomi
and Physiologi, Fifth edition. Philadelphia
Langganan:
Komentar (Atom)



